PKLH DALAM PENDIDIKAN LANDASAN POKOK PKLH DALAM KURIKULUM
UNIVERSITAS ACHMAD YANI BANJARMASIN
Ditulis oleh : Sahriah ( NPM : 17862060070 )
PKLH Dalam Pendidikan
A. Pengertian Pendidikan
Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan,keterampilan dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi
berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian.
Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga
memungkinkan secara otodidak. Etimologi kata pendidikan itu sendiri berasal
dari bahasa Latin yaitu ducare, berarti “menuntun, mengarahkan, atau
memimpin” dan awalan e,
berarti “keluar”. Jadi, pendidikan berarti kegiatan “menuntun ke luar”. Setiap
pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orng berpikir, merasa, atau
tindakan dapat dianggap pendidikan.
Pendidikan
umumnya dibagi menjadi tahap seperti prasekolah, sekolah dasar, sekolah
menengah pertama, sekolah menengah atas, dan kemudian perguruan tinggi,
universitas atau magang. Sebuah hak atas pendidikan telah diakui oleh beberapa
pemerintah. Pada tingkat global, Pasal 13 Kovenan Internasional tentang Hak
Ekonomi, Sosial dan Budaya mengakui hak setiap orang atas pendidikan. Meskipun
pendidikan adalah wajib di sebagian besar tempat sampai usia tertentu, bentuk
pendidikan dengan hadir di sekolah sering tidak dilakukan, dan sebagian kecil
orang tua memilih untuk pendidikan home-schooling, e-learning atau yang serupa
untuk anak-anak mereka.
B. Pengertian PKLH
Pendidikan Kependudukan Lingkungan Hidup (PKLH)
adalah suatu program kependudukan untuk membina anak didik
memiliki pengetahuan, kesadaran, sikap, dan perilaku yang
rasional serta bertanggung jawab tentang pengaruh timbal balik
antara penduduk dengan lingkungan hidup dalam berbagai aspek kehidupan manusia.
Landasan Pokok PKLH Dalam Kurikulum
A.
Tujuan Pklh
PKLH adalah suatu program kependudukan untuk membina anak didik memiliki
pengetahuan, kesadaran, sikap, dan perilaku yang rasional serta bertanggung
jawab tentang pengaruh timbal balik antara penduduk dengan lingkungan hidup
dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Kemudian objek yang menjadi medan studi
PKLH selalu berkaitan dengan masalah kependudukan dan kelestarian lingkungan
hidup.
Dari semua
uraian tersebut maka tujuan dari Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup
(PKLH) adalah sebagai berikut :
1. Mengembangkan pengetahuan tentang konsep kependudukan dan lingkungan hidup.
2. Mengembangkan kesadaran terhadap adanya masalah kependudukan dan lingkungan
hidup.
3. Menumbuhkan kesadaran akan perlunya mengatasi masalah kependudukan dan
lingkungan hidup.
4. Mengembangkan pengetahuan tentang adanya hubungan timbal balik antara
penduduk dengan lingkungan hidup.
5. Mengembangkan sikap positif terhadap pembentukan lingkungan hidup yang
serasi yang menjamin kelangsungan hidup manusia.
6. Mengembangkan keterampilan untuk membina keluarga dan kelestarian
lingkungan hidup.
7. Mengembangkan partisipasi aktif dalam usaha meningkatkan kualitas penduduk
dan kelestarian lingkungan hidup.
B.
Strategi PKLH
Strategi pembelajaran PKLH merupakan suatu prosedur yang digunakan oleh pendidik/guru
dalam proses pembelajaran sebagai sarana untuk mencapai tujuan pembelajaran tesebut.
Strategi pembelajaran PKLH memiliki signifikansi terhadap
perubahan prilaku siswa yang berwawasan kependudukan dan lingkungan hidup Strategi pembelajaran PKLH merupakan suatu prosedur yang digunakan oleh pendidik/guru
dalam proses pembelajaran sebagai sarana untuk mencapai tujuan pembelajaran tesebut. Strategi pembelajaran PKLH memiliki signifikansi terhadap
perubahan prilaku siswa yang berwawasan kependudukan dan lingkungan hidup.
1.
Model Pembelajaran Berbasis-Masalah
Pembelajaran
Berbasis-Masalah adalah satu model pengajaran yang menggunakan
masalah sebagai fokus untuk mengembangkan keterampilan pemecahan-masalah,
materi (konten), dan pengendalian diri. Selama pelajaran Pembelajaran
Berbasis-Masalah, memecahkan satu masalah spesifik adalah tujuan pelajaran.
Tanggung jawab untuk memecahkan masalah itu ada pada diri sisvva, dan guru
memandu proses pemecahan-masalah.
Merencanakan
pelajaran untuk Pembelajaran Berbasis-Masalah mulai ketika satu topik
diidentifikasi dan tujuan belajar dinyatakan. Perencanaan berlanjut
dengan memilih satu masalah yang akan berfungsi sebagai fokus pelajaran. Proses
ini selesai saat terjadi akses pada materi yang memungkinkan sisvva mencari
solusi masalah.
Penerapan
Pelajaran Berbasis-Masalah mulai diterapkan saat guru pertama-tama
mereview pengetahuan awal yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah dan memberi
siswa satu masalah untuk dipecahkan. Dengan bimbingan dari guru, siswa kemudian
merancang dan menerapkan strategi untuk memecahkan masalah. Pelajaran untuk
Pembelajaran Berbasis-Masalah ditutup kala siswa menyajikan dan membahas
hasil-hasil dari upaya pemecahiin masalah mereka.
Salah satu
komponen penting dalam pembelajaran berbasis masalah adalah melakukan
penyelidikan. Penyelidikan adalah satu proses untuk secara sistematis menjawab
pertanyaan berdasarkan bukti. Penyelidikan didasarkan pada metode ilmiah
dan dirancang untuk memberi siswa latihan dalam penelitian ilmiah.
Pelajaran
yang menggunakan penyelidikan mulai dengan pertanyaan yang dijawab siswa secara
sementara (berhipotesis). Data kemudian dikumpulkan, yang memungkinkan asesmen
terhadap hipotesis. Pelajaran ditutup saat siswa membuat generalisasi dari
asesmen terhadap hipotesis mereka. Penyelidikan bisa dimodifikasi supaya
efektif dalam berbagai bidang materi. Modifikasi primer terjadi dalam cara
pengumpulan data untuk menyelidiki hipotesis.
Pembelajaran
Berbasis-Masalah bisa digunakan bersama anak-anak kecil dengan menyajikan
masalah secara spesifik dan konkret seraya memberi siswa bimbingan yang
diperlukan untuk memecahkan masalah dengan sukses. Saat melakukan kegiatan
Pembelajaran Berbasis Masalah bersama siswa yang memiliki latar belakang yang
berbeda, upaya harus dikerahkan demi memastikan sisvva memiliki pengetahuan
awal yang dibutuhkan untuk menyelidiki masalah dengan sukses.
Kegiatan
Pembelajaran Berbasis-Masalah memanfaatkan efek motivasi dari rasa ingin tahu
dan tantangan, tugas autentik, dan keterlibatan serta otonomi. Memulai
kegiatan dengan satu masalah akan mendorong rasa ingin tahu dan tantangan,
tugas-tugas autentik mengaitkan materi abstrak dengan dunia nyata, dan otonomi
serta keterlibatan tercipta saat kegiatan dilaksanakan.
2. Model
Ceramah-Diskusi
Ceramah itu populer karena mudah direncanakan, fleksibel, dan sederhana
untuk diterapkan. Namun ceramah kerap tidak efektif, terutama bagi anak-anak
kecil dan siswa yang bermotivasi rendah. Sebab, ceramah menempatkan murid dalam
peran pasif, umumnya membebani secara berlebihan memori kerja para murid, dan
tidak memungkinkan guru untuk secara informal menilai kemajuan pembelajaran.
Ceramah yang dipadukan dengan diskusi membantu mengatasi
kekurangan-kekurangan ceramah dengan menggabungkan antara periode-periode
pendek di mana informasi disajikan dan periode-periode di mana tingkat tinggi
keterlibatan siswa didorong, baik dalam situasi kelas-utuh atau kelompok-kecil.
Merencanakan pelajaran ceramah-diskusi melibatkan empat langkah:
mengidentifikasi topik, menentukan tujuan belajar, menstrukturkan materi, dan
menyiapkan pengantar pelajaran. Karena bangunan pengetahuan
sistematis itu luas dan rumit, menentukan tujuan belajar memerlukan lebih
banyak pembuatan keputusan dibandingkan kala mengajarkan bentuk-bentuk materi
yang lebih spesifik, seperti konsep, generalisasi, atau keterampilan
prosedural.
Karena cakupan bangunan pengetahuan sistematis, bangunan itu tidak bisa
diajarkan dalam satu pelajaran, sehingga materinya harus distrukturkan supaya
bermakna bagi siswa. Panduan awal (advance organizers) adalah
pernyataan-pernyataan yang disajikan pada awal pelajaran ceramah-diskusi dan
dirancang untuk menarik perhatian siswa dan memberikan kerangka kerja untuk
dikaitkan dengan materi pelajaran.
Penerapan Pelajaran untuk Model Ceramah-Diskusi dimulai
dengan satu pengantar yang diniatkan untuk menarik siswa ke dalam pelajaran dan
dengan satu panduan awal yang memberikan kerangka kerja bagi pelajaran.
Sepanjang tahap presentasi, guru memberi siswa informasi baru dan biasanya
menggunakan pengajuan pertanyaan untuk memeriksa persepsi dan pemahaman siswa
tentang informasi. Periode menyajikan informasi tambahan terjadi setelah
monitoring pemahaman. Kemudian, guru kembali memeriksa pemahaman siswa, kali
ini berusaha membantu siswa mengintegrasikan informasi baru dengan informasi
yang sebelumnya disajikan.
Model Ceramah-Diskusi, meski dirancang untuk mengajarkan bangunan
pengetahuan sistematis, bisa dergan segera diadaptasi
untuk mengajarkan konsep dan generalisasi. Memberikan definisi atau
mergungkapkan generalisasi terjadi di dalam fase presentasi. Juga, monitoring pemahaman dan
integrasi dicurahkan untuk menganalisis contoh. Model Ceramah-Diskusi
cocok bagi anak-anak kecil dan murid tak berpengalaman jika presentasi dibuat
singkat dan digabungkan dengan tingkat interaksi tinggi.
Penilaian pemahaman siswa saat menggunakan Model ceramah-diskusi
adalah berfokus pada pemahaman siswa tentang hubungan di antara
topik-topik yang mereka pelajari dan penerapan topik-topik itu pada
situasi-situasi baru. Hal ini memerlukan lebih dari sekadar menilai pemahaman
terhadap fakta-fakta spesifik, konsep, dan generalisasi. Item-item esai pendek
yang meminta siswa untuk menggambarkan hubungan, dan item-item hipotetis yang
menuntut siswa untuk mentransfer pemahaman mereka pada situasi-situasi baru,
efektif untuk menilai topik-topik yang diajarkan dengan Model Ceramah-Diskusi.
Memberi siswa daftar konsep-konsep dan meminta mereka menyusun konsep-konsep
itu secara hierarkis juga bisa efektif untuk menilai materi yang diajarkan
dengan Model Ceramah-Diskusi.
C.
Pendekatan PKLH
Pendekatan
PKLH
Perlindungan terhadap sumber daya alam
merupakan pertanyaan dasar atas eksistensi setiap orang dan seluruh umat
manusia. Oleh karena itu sekolah mempunyai kewajiban untuk membangkitkan
kepekaan dan kesadaran akan lingkungan pada kaum remaja, membuka wawasan dan
mendidik mereka untuk berinteraksi dan bersikap dengan penuh tanggung jawab.
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 008C/U/1975
menetapkan bahwa Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH) mulai
diterapkan di Sekolah Dasar (SD).
Dalam
Surat Keputusan tersebut dinyatakan bahwa PKLH diajarkan tidak dalam bentuk
mata pelajaran tersendiri, tetapi dalam bentuk kesatuan dengan mata pelajaran
dan bidang studi tertentu melalui pendekatan terpadu (integratif). Pengajaran
Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH) khususnya melalui jalur
pendidikan formal dapat ditempuh melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan
monolitik dan pendekatan integratif.
1.
Pendekatan monolitik.
Pendekatan ini bertitik tolak dari pandangan bahwa setiap pelajaran
merupakan sebuah komponen yang berdiri sendiri dan mempunyai tujuan tertentu
dalam satu kesatuan sistem. Pendekatan monolitik dalam PKLH berarti merupakan satu mata pelajaran yang beridiri
sendiri sejajar dengan mata pelajaran lain, diajarkan oleh tenaga pengajar
(guru) tertentu serta memiliki jumlah jam pelajaran tersendiri setiap minggunya
yang telah ditentukan pula.
Bila pendekatan monolitik diterapkan di sekolah formal,
maka berabgai kendala akan segera muncul bersamaan dengan diterapkannya
pendekatan tersebut. Kendala ini terutama menyangkut masalah kurikulum sekolah
yang sampai saat ini dirasa sudah terlalu sarat serta pelaksanaannya telah
menyita waktu pelajaran yang termasuk cukup banyak. Kendala lain menyangkut
maslah penyediaan tenaga pengajar khususnya yang telah memiliki kompetensi
dalam bidang ini. Mengingat keterbatasan dalam hal yang telah dikemukakan di
depan, maka pendekatan monolitik dalam PKLH tidak digunakan pada jenjang
pendidikan tertentu.
2.
Pendekatan integratif (terpadu).
Yang dimaksud dengan pendekatan integratif (terpadu) dalam
PKLH adalah memadukan atau meyatukan materi PKLH ke dalam mata pelajaran
tertentu. Pendekatan ini muncul bertolak dari kenyataan sebagaimana telah
dikemukakan didepan bahwa bahan kurikulum sekolah yang ada sudah terlalu sarat
sehingga tidak memungkinkan lagi untuk menambah mata pelajaran baru.
Kita semua mungkin dapat memahami bahwa dengan
masuknya unsur-unsur baru dalam kurikulum sekolah sesungguhnya semakin terasa
kegunaannya bagi para siswa.
Untuk mangatasi masalah ini maka ditempuh pendekatan
integratif dengan pertimbangan bahwa unsur baru tersebut dapat dimasukkan tanpa
harus menambah jumlah mata pelajaran. Tekhnik
pengintegrasian materi PKLH sepenuhnya diserahkan kepada guru mata pelajaran
terkait. Perlu diketahui bahwa tidak semua pokok bahasan/konsep/nilai yang
dipelajari dalam mata pelajaran terkait dapat menyerap materi PKLH.
Pengitegrasian yang dipaksakan tentu akan menimbulkan masalah baru, disamping
hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan. Hanya pokok
bahasan/konsep/nilai yang memilki hubungan yang erat dengan PKLH.
Hal ini perlu kita pahami mengingat pengitegrasian yang
diharapkan dalam PKLH adalah itegrasi konseptual yang dirancang dan
dilaksanakan secara sistematis berdasarkan kurikulum.
iIntegrasi konseptual dapat terwujud apabila
materi pokok bahasan PKLH dan mata pelajaran terkait benar-benar menyatu,
saling mengisi dan menunjang serta memperkaya pengetahuan dan pemahaman siswa.
Perumusan program yang baik belum menjamin keberhasilan pembelajaran. Masih ada
faktor lain yang turut menentukan yaitu tingkat keterlaksanaan proses belajar mengajar
serta aspek penilaian.
Untuk itu seorang guru dituntut menguasai dengan baik
strategi belajar mengajar sehingga menunjang tingkat keterlaksanaan program
belajar mengajar tersebut. Pendekatan PKLH Perlindungan terhadap sumber daya alam merupakan
pertanyaan dasar atas eksistensi setiap orang dan seluruh umat manusia. Oleh
karena itu sekolah mempunyai kewajiban untuk membangkitkan kepekaan dan
kesadaran akan lingkungan pada kaum remaja, membuka wawasan dan mendidik mereka
untuk berinteraksi dan bersikap dengan penuh tanggung jawab.
DAFTAR PUSTAKA
Ismail Arianto, Dkk. 1988. Pendidikan
Kependudukan Dan Lingkungan Hidup. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan
Kebudayaan.
Johosua.
1989. Pendidikan Kependudukan Dan Lingkungan Hidup Jakarta:
Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.
M. Jusuf.
1999. “Pendidikan Kependudukna Dan Lingkunga Hidup Dalam Pembangunan
Berkelanjutan. Jakarta: IKIP Jakarta.
Hisyam Zaini, DKK. 2008. “Strategi
Pembelajaran Aktif” Yogyakarta :
Pustaka Insan Madani.
https://universitasachmadyani-pgsd-angktn2017.blogspot.com/2020/09/implementasi-pklh.html
https://universitasachmadyani-pgsd-angktn2017.blogspot.com/2020/09/pendahuluan-tentang-pklh-dan-konsep.html
Komentar
Posting Komentar